Penyakit

Asam lambung naik: gejala, pemicu, dan kapan ke dokter

Rasa terbakar di dada dan mulut terasa asam sering berasal dari asam lambung yang naik. Kenali gejala, pemicu, kebiasaan yang membantu, dan nyeri dada yang perlu pertolongan segera.

Terbit
Diperbarui
Waktu baca
10 menit
Asam lambung naik: gejala, pemicu, dan kapan ke dokter — Ilustrasi bentuk lambung yang sederhana dengan gelembung kecil naik di dalam lingkaran berpetak, dengan mangkuk di kiri.

Disusun oleh Redaksi Artikel Kesehatan. Riset dibantu AI, lalu setiap fakta diperiksa redaksi terhadap sumber di bawah. Baca Kebijakan Redaksi

Rasa panas seperti terbakar di dada, mulut terasa asam atau pahit, dan keluhan yang memburuk setelah makan atau berbaring adalah tanda yang sering dikaitkan dengan asam lambung naik [1]. Keluhan ini umum dan sering kali dapat dikurangi dengan perubahan kebiasaan [1]. Namun, ada keadaan ketika asam lambung perlu diperiksa dokter, dan ada pula nyeri dada yang bukan berasal dari lambung [2].

Artikel ini membahas gejala, pemicu, kebiasaan yang dapat membantu, pemeriksaan oleh dokter, dan tanda bahaya. Golongan obat hanya disebut secara umum. Artikel ini tidak membahas pilihan atau dosis obat. Untuk itu, tanyakan kepada dokter atau apoteker.

Apa itu asam lambung naik

Lambung menghasilkan asam untuk mencerna makanan. Dalam keadaan normal, katup otot di ujung bawah kerongkongan, dibantu sekat antara rongga dada dan perut (diafragma), menahan isi lambung agar tidak naik [3]. Bila asam dan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan, terjadilah refluks asam [4].

Refluks sesekali umum terjadi dan sering tidak menimbulkan gejala [4]. Bila refluks menimbulkan keluhan yang berulang dan mengganggu, atau lama-kelamaan menimbulkan komplikasi, keadaan ini disebut penyakit refluks gastroesofageal (GERD) [4]. GERD dapat muncul bila katup di ujung bawah kerongkongan melemah, atau mengendur pada saat yang tidak semestinya [3].

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan GERD sebagai gangguan pencernaan ketika asam lambung dan isi perut mengalir kembali ke kerongkongan [5]. Penentuan apakah seseorang mengalami GERD dilakukan oleh dokter.

Asam lambung naik, maag, dan GERD

Di Indonesia, keluhan lambung apa pun sering disebut “maag”. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa masyarakat sering menyamakan GERD dengan maag, padahal keduanya berbeda [5]. Artikel itu mengutip dokter spesialis gastroenterologi dari FKUI-RSCM: keluhan maag berpusat di lambung, seperti nyeri ulu hati, begah, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, dan sendawa. Gejala utama GERD adalah rasa panas di dada dan mulut terasa pahit. Seseorang dapat mengalami keduanya sekaligus [5].

NHS, layanan kesehatan Inggris, memakai istilah gangguan pencernaan (dispepsia) untuk keluhan setelah makan, seperti rasa terbakar di dada, perut terasa penuh dan kembung, mual, atau sendawa [6]. Menurut NHS, keluhan ini sering disebabkan oleh asam lambung yang mengiritasi lapisan lambung atau kerongkongan [6]. Karena gejalanya saling tumpang tindih, sebutan yang kita pakai sehari-hari tidak dapat menggantikan pemeriksaan dokter.

Gejala asam lambung naik

Menurut NHS, dua gejala utamanya adalah [1]:

  • Rasa terbakar di bagian tengah dada, yang dikenal sebagai heartburn.
  • Rasa asam atau tidak enak di mulut karena asam lambung naik.

Sebagian orang juga merasakan isi lambung naik sampai ke tenggorokan atau mulut, sehingga makanan atau asam lambung terasa di mulut. Keluhan ini disebut regurgitasi [3].

Gejala lain yang dapat muncul antara lain [1][3]:

  • batuk atau cegukan yang terus kambuh;
  • suara serak;
  • bau mulut;
  • perut kembung;
  • mual;
  • nyeri atau sulit saat menelan;
  • nyeri dada.

NHS mencatat bahwa gejala sering memburuk setelah makan, saat berbaring, atau saat membungkuk [1].

Gejala yang tidak selalu terasa di dada

Tidak semua orang dengan GERD merasakan heartburn atau regurgitasi [3]. Pada sebagian orang, asam yang naik menimbulkan keluhan di mulut, tenggorokan, atau paru-paru, misalnya batuk yang berlangsung lama, suara serak, radang pita suara (laringitis), asma, atau lapisan email gigi yang terkikis [4].

Pedoman American College of Gastroenterology (ACG), perhimpunan dokter spesialis pencernaan di Amerika Serikat, mencatat bahwa nyeri dada akibat GERD bisa tidak dapat dibedakan dari nyeri jantung [7]. Karena itu, jangan menyimpulkan sendiri bahwa nyeri dada berasal dari lambung. Tanda nyeri dada yang perlu pertolongan segera ada di bagian akhir artikel ini.

Pemicu yang sering dijumpai

Sering kali tidak ada satu penyebab yang jelas [1]. NHS dan Kementerian Kesehatan menyebut beberapa hal yang dapat memicu atau memperburuk keluhan [1][5]:

  • Makanan dan minuman tertentu. Kementerian Kesehatan menyebut makanan tinggi lemak, pedas, susu, dan gorengan, serta kopi dan teh [5]. NHS menyebut kopi, tomat, alkohol, cokelat, dan makanan berlemak atau pedas [1].
  • Makan dalam porsi besar, apalagi pada malam hari menjelang tidur [5].
  • Berat badan berlebih [1][3].
  • Merokok, atau sering menghirup asap rokok orang lain [3].
  • Kehamilan, karena tekanan pada perut dan perubahan hormon [5][6].
  • Stres dan rasa cemas [1].
  • Obat tertentu, misalnya obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) [1]. NIDDK, lembaga kesehatan pemerintah Amerika Serikat untuk diabetes, penyakit pencernaan, dan penyakit ginjal, dan Kementerian Kesehatan juga menyebut sebagian obat asma, obat tekanan darah tinggi, dan obat penenang [3][5]. Jangan menghentikan obat yang diresepkan tanpa berbicara dengan dokter [1].
Setumpuk lento, gorengan bulat berwarna cokelat, di atas piring beralas tisu. (tab baru)
Gorengan dan makanan berlemak termasuk pemicu yang disebut Kementerian Kesehatan. Foto: Mbah Bandono / Wikimedia Commons (tab baru), CC BY-SA 4.0 (tab baru)

Pemicu setiap orang berbeda. Catatan sederhana tentang apa yang Anda makan dan kapan keluhan muncul dapat membantu Anda mengenali pola pribadi, dan berguna saat berkonsultasi dengan dokter.

Kondisi lain yang dapat berperan

NHS menyebut bahwa asam lambung naik juga dapat berkaitan dengan kondisi lain, seperti hernia hiatus (sebagian lambung bergeser naik ke rongga dada), tukak lambung, atau infeksi bakteri di lambung [1]. Kementerian Kesehatan juga menyebut gangguan jaringan ikat seperti skleroderma [5]. Kondisi ini hanya dapat dipastikan lewat pemeriksaan dokter. Karena itu, keluhan yang sering kambuh sebaiknya tidak terus ditangani sendiri.

Saat hamil

Gangguan pencernaan sering dialami ibu hamil, terutama sejak usia kehamilan 27 minggu [6]. Menurut Kementerian Kesehatan, rasa panas di dada saat hamil biasanya hilang setelah melahirkan, bila berat badan tidak naik terlalu banyak [5]. Bila Anda sedang hamil, jangan memilih obat sendiri, termasuk obat yang dijual bebas. Tanyakan kepada dokter, bidan, atau apoteker sebelum minum obat apa pun [1].

Kebiasaan yang dapat membantu

NHS menganjurkan beberapa perubahan gaya hidup berikut [1]:

  1. Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dan hindari makanan atau minuman yang memicu keluhan Anda.
  2. Beri jarak antara makan dan tidur. NHS menyarankan tidak makan 3 sampai 4 jam sebelum tidur. Kementerian Kesehatan juga menganjurkan makan paling lambat 3 jam sebelum tidur dan tidak langsung berbaring setelah makan [5].
  3. Tinggikan bagian kepala tempat tidur sekitar 10 sampai 20 cm, misalnya dengan mengganjal kaki tempat tidur, sehingga kepala dan dada lebih tinggi dari pinggang. Jangan hanya menumpuk bantal, karena posisi ini menambah tekanan pada perut dan dapat memperburuk keluhan. Anjuran ini hanya untuk orang dewasa. Bayi tetap ditidurkan telentang di permukaan datar, tanpa meninggikan kepala tempat tidurnya [8].
  4. Turunkan berat badan secara bertahap bila berat badan Anda berlebih. Langkah awalnya ada di artikel cara diet yang aman.
  5. Berhenti merokok dan kurangi alkohol.
  6. Hindari pakaian yang ketat di pinggang.
  7. Cari cara untuk lebih rileks, karena stres dapat memperburuk gejala.
Kepala dan dada lebih tinggiganjal 10–20 cmkakiGanjal kaki tempat tidur, jangan hanya menumpuk bantal.
Meninggikan bagian kepala tempat tidur untuk orang dewasa. Sumber: NHS, Heartburn and acid reflux [1].

Contoh penerapannya: bila Anda biasa tidur pukul 22.00, usahakan makan malam selesai sekitar pukul 18.00 sampai 19.00. Setelah makan, hindari langsung berbaring.

jeda paling sedikit 3 jam [1][5]makan malamtidak langsung berbaringtidur18.0019.0020.0021.0022.00
Contoh jadwal bila Anda tidur pukul 22.00. NHS menyarankan tidak makan 3 sampai 4 jam sebelum tidur [1], Kementerian Kesehatan paling lambat 3 jam sebelum tidur [5].

Beberapa langkah ini didukung penelitian. Sebuah tinjauan sistematis tahun 2016 menyimpulkan bahwa penurunan berat badan perlu dianjurkan bagi penderita GERD yang berat badannya berlebih, dan berhenti merokok bagi penderita yang merokok [9]. Pada keluhan di malam hari, uji klinis dalam tinjauan itu menunjukkan bahwa menghindari makan larut malam dan meninggikan kepala tempat tidur mengurangi paparan asam saat berbaring [9].

Pedoman ACG tahun 2022 menilai kekuatan bukti untuk setiap anjuran. Penurunan berat badan pada orang dengan berat badan berlebih mendapat rekomendasi kuat. Menghindari makan 2 sampai 3 jam sebelum tidur, tidak merokok, menghindari makanan pemicu, dan meninggikan kepala tempat tidur untuk keluhan malam hari disarankan, meskipun buktinya masih terbatas [7].

Makanan: kenali pemicu Anda sendiri

Pedoman ACG menganjurkan menghindari makanan yang memicu keluhan [7]. Karena pemicu setiap orang berbeda, tidak ada satu daftar pantangan yang pasti cocok untuk semua orang.

Daripada menghindari semua pemicu sekaligus, coba kurangi satu jenis dalam satu waktu, lalu perhatikan apakah keluhan Anda berubah.

Sambal tomat merah di dalam mangkuk kayu, dengan sendok kayu di atas kain. (tab baru)
Makanan pedas dan tomat disebut sebagai pemicu, tetapi pemicu setiap orang berbeda. Foto: Windi Utari / Wikimedia Commons (tab baru), CC BY-SA 4.0 (tab baru)

Banyak orang mencari buah atau makanan tertentu untuk meredakan asam lambung. Halaman NHS, NIDDK, dan Kementerian Kesehatan yang kami rujuk tidak menyebut satu makanan pun sebagai obat asam lambung naik. Yang dianjurkan adalah menghindari pemicu dan mengatur pola makan [1][5][10]. Ulasan tentang buah naga, yang sering dikaitkan dengan asam lambung, ada di artikel manfaat buah naga. Untuk menyusun menu harian yang seimbang, lihat panduan makanan sehat.

Bagaimana dokter memeriksa asam lambung naik

Pada kebanyakan kasus, dokter menilai GERD dari gejala dan riwayat kesehatan Anda. Bila gejalanya mengarah ke GERD, dokter dapat langsung menganjurkan perubahan gaya hidup dan obat tanpa pemeriksaan tambahan [11].

Pemeriksaan lanjutan biasanya dipertimbangkan bila [11]:

  • gejala mengarah ke komplikasi GERD;
  • gejala mungkin berasal dari penyakit lain yang mirip GERD;
  • gejala tidak membaik setelah pengobatan dan perubahan gaya hidup.

Pemeriksaan yang dapat dipakai antara lain:

  • Endoskopi saluran cerna atas (gastroskopi). Dokter memasukkan selang tipis berkamera lewat mulut untuk melihat lapisan kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari. Bila perlu, dokter mengambil sedikit jaringan untuk diperiksa di laboratorium [11].
  • Pemantauan pH kerongkongan. Alat kecil mencatat naiknya asam ke kerongkongan, sementara Anda mencatat waktu makan, tidur, dan gejala. Menurut NIDDK, ini cara paling akurat untuk mendeteksi asam lambung di kerongkongan [11].
  • Tes bakteri di lambung. Infeksi bakteri tertentu dapat menimbulkan keluhan serupa, dan dokter mengobatinya dengan kombinasi obat [1].

Pedoman ACG menganjurkan endoskopi sebagai pemeriksaan pertama bila seseorang sulit menelan atau mengalami tanda bahaya lain, seperti berat badan turun atau perdarahan saluran cerna [7].

Sebelum ke dokter, siapkan catatan singkat: kapan keluhan muncul, seberapa sering, makanan atau kegiatan yang memperburuknya, serta semua obat dan suplemen yang sedang Anda minum. Catatan ini membantu dokter menilai keluhan Anda.

Obat asam lambung: tanyakan dokter atau apoteker

Obat dapat membantu meredakan gejala, tetapi pilihannya bergantung pada keluhan, usia, kehamilan, penyakit lain, dan obat yang sedang Anda minum. Karena itu, konsultasikan ke dokter atau apoteker sebelum memakai obat apa pun, termasuk obat yang dijual bebas.

Golongan obat yang dipakai untuk keluhan ini antara lain:

  • Antasida dan alginat. Obat ini membantu meredakan gejala dalam jangka pendek, tetapi tidak menyembuhkan penyebabnya [1]. NHS dan NIDDK menyebut obat ini tidak untuk dipakai setiap hari atau terus-menerus dalam waktu lama tanpa berbicara dengan dokter [1][12].
  • Penghambat reseptor H2 (H2 blocker). Obat ini mengurangi jumlah asam yang dibuat lambung [12].
  • Penghambat pompa proton (PPI). Obat ini juga mengurangi produksi asam lambung. Menurut NIDDK, PPI lebih baik dalam mengatasi gejala GERD daripada H2 blocker, dan dapat memulihkan lapisan kerongkongan pada kebanyakan penderita GERD [12].

Menurut NIDDK, PPI umumnya aman dan efek sampingnya jarang. Namun, para ahli masih meneliti efek pemakaian dalam waktu lama, jadi bicarakan manfaat dan risikonya dengan dokter [12]. Pedoman ACG menganjurkan dokter mencoba menghentikan PPI bila gejala khas GERD sudah membaik setelah pengobatan awal [7]. Namun, sebagian orang tetap memerlukan obat ini dalam jangka panjang [1][12]. Jangan menghentikan atau mengubah obat resep tanpa berbicara dengan dokter. Bila gejala kembali setelah obat dihentikan, temui dokter lagi [1].

Bila obat dan perubahan gaya hidup tidak membantu, dokter dapat mempertimbangkan tindakan lain, termasuk operasi untuk memperkuat katup di ujung bawah kerongkongan [12]. Menurut NIDDK, risiko komplikasi akibat operasi lebih besar daripada akibat obat [12].

Komplikasi bila dibiarkan

Asam lambung yang naik terus-menerus dan tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi [4][5]:

  • Peradangan kerongkongan (esofagitis). Peradangan ini dapat menimbulkan luka dan perdarahan pada lapisan kerongkongan [4].
  • Penyempitan kerongkongan (striktur). Kerongkongan yang menyempit dapat membuat Anda sulit menelan [4].
  • Barrett’s esophagus. Lapisan kerongkongan berganti dengan jaringan yang mirip lapisan usus. Sebagian kecil orang dengan keadaan ini kemudian mengalami kanker kerongkongan [4][5].
  • Keluhan di luar kerongkongan, seperti batuk yang berlangsung lama, suara serak, dan email gigi yang terkikis [4].

Karena itu, keluhan yang menetap perlu diperiksa, walaupun terasa ringan.

Kapan perlu ke dokter

Temui dokter bila [1][3][6]:

  • perubahan kebiasaan dan obat bebas tidak membantu;
  • Anda merasakan heartburn hampir setiap hari, terutama bila sudah berlangsung 3 minggu atau lebih [13];
  • makanan terasa tersangkut di tenggorokan, atau Anda sulit menelan;
  • Anda sering muntah;
  • nafsu makan hilang, atau berat badan turun tanpa sebab yang jelas;
  • terasa ada benjolan di perut.

Sulit menelan perlu diperiksakan pada usia berapa pun. Usia juga memengaruhi seberapa cepat Anda perlu diperiksa. Bila Anda berusia 55 tahun atau lebih dan berat badan turun tanpa sebab, disertai nyeri perut bagian atas, refluks, atau gangguan pencernaan, segera periksakan diri. Pedoman NICE (lembaga pedoman klinis Inggris) menganjurkan dokter merujuk keadaan ini dengan cepat untuk pemeriksaan lanjutan [14].

Hubungi 119 atau 112, atau segera ke IGD (instalasi gawat darurat), bila Anda mengalami salah satu tanda berikut, yang menurut NHS perlu pertolongan segera [15]:

  • muntah darah merah segar, atau muntahan tampak seperti bubuk kopi;
  • tinja berdarah, atau berwarna hitam, lengket, dan sangat berbau;
  • nyeri perut yang hebat, atau perut sakit saat disentuh;
  • nyeri dada yang muncul tiba-tiba.

Nyeri dada yang perlu diwaspadai

Tidak semua rasa panas di dada berasal dari lambung. NHS mengingatkan bahwa serangan jantung dapat terasa seperti gangguan pencernaan, dengan rasa terbakar di dada [2]. Hubungi 119 atau 112, atau segera ke IGD, bila Anda mengalami [2]:

  • nyeri dada yang terasa menekan, meremas, atau berat;
  • nyeri yang menjalar ke lengan, leher, atau rahang;
  • sesak napas, berkeringat, mual, atau muntah bersama nyeri dada;
  • bibir atau kulit tampak pucat, kebiruan, atau keabu-abuan;
  • seseorang pingsan dan tidak merespons seperti biasa.

Kedua nomor itu belum menjangkau semua kabupaten dan kota. Bila tidak tersambung, minta orang lain mengantar Anda ke IGD terdekat. Jangan mengemudi sendiri ke rumah sakit dalam keadaan ini.

Sumber

  1. NHS. Heartburn and acid reflux (tab baru). 2023.
  2. NHS. Heart attack (tab baru). 2026.
  3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Symptoms & Causes of GER & GERD (tab baru). 2020.
  4. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Definition & Facts for GER & GERD (tab baru). 2020.
  5. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah). GERD: Meskipun Biasa Terjadi pada Pencernaan Manusia, Jika Tidak Tertangani dengan Benar Apakah Bisa Berbahaya? (tab baru). 2023.
  6. NHS. Indigestion (tab baru). 2023.
  7. Katz PO, Dunbar KB, Schnoll-Sussman FH, Greer KB, Yadlapati R, Spechler SJ. ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease (tab baru). The American Journal of Gastroenterology, 2022.
  8. NHS. Reflux in babies (tab baru). 2025.
  9. Ness-Jensen E, Hveem K, El-Serag H, Lagergren J. Lifestyle Intervention in Gastroesophageal Reflux Disease (tab baru). Clinical Gastroenterology and Hepatology, 2016.
  10. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Eating, Diet, & Nutrition for GER & GERD (tab baru). 2020.
  11. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diagnosis of GER & GERD (tab baru). 2020.
  12. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Treatment for GER & GERD (tab baru). 2020.
  13. NHS. Symptoms of oesophageal cancer (tab baru). 2023.
  14. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Suspected cancer: recognition and referral (NG12), rekomendasi 1.2 (tab baru). 2015, diperbarui 2026.
  15. NHS. Stomach ulcer (tab baru). 2025.